Rabu, 09 Februari 2011

RUMAH KENANGAN - SAJAK DEMONSTRAN

SAJAK DEMONSTRAN

Teriak mana yang lebih nyaring

Dari puisi, ketika sepi membabi luka

Menyeruduk ke saban rungkun dalam jiwa

Dan meraung mencemari langit negeriku


Penyair adalah tuhan kata-kata

Saat cinta tak menemu puncak merdeka


Suara mana yang lebih lantang

Dari sajak petualang

Disaat resah jadi sembilu

Dalam lagu-lagu cemburu – meradang

Di hati rakyat yang terbungkam


Penyair adalah wahyu peradaban

Bagi zaman yang terbius dengan hasutan


Maka inilah puisiku, demonstran lugu

Yang selalu membawa batu

Dan bersiap melempar wajah tirani bisu

2010



RUMAH KENANGAN

Bicaralah tentang kenangan, segalanya

Punya kisah tanpa cela

Buku-buku yang tak pernah lagi kau baca

Sekotak surat cinta, koleksi prangko

Atau jejak-jejak musim di beranda

Dan lugunya bait puisi di masa muda


Semuanya bercerita dalam kenangan

Kursi tua, album potret keluarga

Kain batik, meja makan, tikar mendong

Langit-langit dapur yang berjelaga

Bahkan kamar-kamar paling rahasia

Sangat penuh dengan ragam peristiwa


Inilah rumah kenangan kita

Tempat singgah yang abadi

Ruang-ruang di dalamnya terus merekam

Keresahan yang sering luput

Ditafsirkan bahasa cinta

Bahasa rindu, dan

Berjuta-juta impian tak terduga


Di masa depan, rumah ini

Pintu masuk bagi saban kenangan itu

1 Syawal 1431 H



PERTEMUAN

Ketika pada akhirnya kita berjumpa

Di pojok gelap rumah tua

Yang temboknya selalu lembap

Dipeluk hijau lumut basah

Kau lantas mengadu tentang kisah masalalu

Menyurukan cantik wajahmu di dadaku

Dan menangis

Untuk cinta yang tercampak keadaan


Ketika pada mulanya penyesalan itu datang

Pada saat kita sepakat

Dalam ikrar perpisahan

Dan kau cepat bergegas meninggalkanku

Lalu terjebak di lebat hutan kegelisahan


Sungguh ini sebuah kisah fatamorgana

Kekasih, dan betapa malangnya kita

Saat rumah kenangan itu membuka jendela

Menampakan semburat rindu yang menyilaukan

Tapi kita masih saja kegelapan

Saling memapah dan memamah penderitaan


Dalam waktu serba tak tuntas

Hanya luka yang semakin dalam membekas

2010



PENYAIR

Adalah tinta yang takan luntur

Dan kekal

Melukiskan gelombang zaman


Adalah pena paling tajam

Menukil sejarah kelam

Menuliskan keresahan-keresahan

Pada saban bening cermin kehidupan


Adalah kertas yang terbentang

Di sepanjang peradaban


Kata-katanya abadi

Dalam puisi

2010



SAJAK UNTUKMU

Menulis sajak untukmu, seperti hujan

Lebat di tengah malam

Begitu dingin kata-kata dijatuhkan

Dari langit kehitaman dalam dadaku

Semuanya serba samar

Suaranya terdengar parau

Namun tak lantas dapat menyelesaikan

Bait-bait kesedihan yang memucat


Menulis sajak untukmu, seperti angin

Yang mengutil pucuk daun dari tangkainya

Meski aku tak pernah sampai menjatuhkan

Aroma musim yang terekam di dalamnya

Kecuali segumpal bayang kengerian

Yang menggetah

Di saban-saban lengkung cuaca


Menulis sajak untukmu, betapa sulitnya

Seperti menarik hinis

Yang tertancap di lubang anus para penyair

Yang tak lagi menulis sajak

Dengan hatinya


Menulis sajak untukmu, ternyata

Tak semudah mulut manis penguasa

Yang mengobral janji-janji

Saat sedang berebut kursi


Kekasih, menulis sajak untukmu

Semua kata yang tersedia

Begitu kelu diucapkan bahasa cinta

2010


Dimuat pertamakali di Lembar Budaya Harian Kabar Priangan

Rabu, 2 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar