Sabtu, 12 September 2009

Kompilasi Puisi Penyair Indonesia


Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri adalah kumpulan (antologi) puisi para penyair Indonesia yang direkam dalam keping CD Audio dan berisi suara-suara penyair yang membacakan puisinya sendiri.

Tanpa bermaksud asal beda, diharapkan, dengan terwujudnya antologi ini akan mampu membawa pencerahan (atau setidaknya warna lain) dalam wacana perpuisian Indonesia. Dasar pemikirannya sederhana, yakni sebagai ajang silaturahmi antar penyair dari lintas generasi yang berbeda. Sekaligus menawarkan bentuk lain dari antologi puisi dari yang biasanya hanya berupa media cetak visual (buku) menjadi media yang bisa dinikmati secara audio.

Bahkan tidak menutup kemungkinan pada perkembangan selanjutnya antologi bersama ini bisa berupa audio visual (video art/video klip) seperti yang pernah dilakukan oleh Almarhum WS Rendra beberapa tahun silam. Nah, format audio dipilih karena sangat memungkinkan untuk memuat banyak karya serta secara ekonomis biaya produksinya lebih hemat.

Kami sadar, pekerjaan ini tidaklah akan mudah diwujudkan. Mengingat akan segala keterbatasan panitia secara materi dan tentunya membutuhkan dukungan serta kerjasama dari banyak pihak yang peduli. Sekedar informasi, hingga sekarang panitia belum mendapatkan sponsor dari pihak manapun. Panitia hanya mampu memberikan sumbangan tenaga, pikiran serta berusaha semaksimal mungkin guna mewujudkan misi yang cukup berat ini. Tentu saja peluang tersebut bisa direspon oleh siapa saja.

Persyaratan :
1.Event ini terbuka untuk penyair WNI (Warga Negara Indonesia) dengan tanpa dibatasi usia, ras, kasta, agama atau golongan tertentu,
2.Domisili penyair masih di wilayah Indonesia,
3.Karya puisi yang direkam adalah karya puisi terbaik (menurut penyairnya sendiri) dan sudah pernah dipublikasikan ke khalayak luas meskipun dalam bentuk lain diluar rekaman suara. Misalnya telah dimuat di media cetak atau telah masuk dalam buku kumpulan puisi tertentu (tidak termasuk yang dipublikasikan di internet). Maksudnya, supaya memberikan gambaran kepada publik sastra itu sendiri tentang perjalanan (proses) sebuah karya termasuk pula akan menjadi gambaran eksistensi sang penyairnya itu sendiri,
4.Melampirkan photo copy kliping puisi bersangkutan (bagi puisi yang pernah dimuat media cetak) atau photo copy sampul buku kumpulan puisi bersangkutan (bagi puisi yang pernah dimuat di dalam kumpulan puisi),
5.Karya yang dikirim adalah karya asli dan dibacakan sendiri oleh penyair bersangkutan dan bukan hasil jiplakan, saduran, hasil adaptasi maupun terjemahan dari karya orang lain,
6.Tema bebas, asal tidak mengandung unsur-unsur yang mencedrai SARA, Susila (pornographi dan pornoaksi) serta bukan sebagai bentuk kampanye politik praktis,
7.Menggunakan bahasa Indonesia,
8.Durasi rekaman minimal 1 menit dan maksimal 5 menit/judul,
9.Diperbolehkan memakai ilustrasi musik atau latar suara lainnya yang mendukung, dengan catatan pemuatan musik atau ilustrasi tersebut tidak merugikan pihak lain,
10.Jumlah karya yang dikirim minimal 3 judul dan maksimal 5 judul,
11.Lampirkan surat pernyataan pribadi yang menyatakan persetujuan mengikuti event ini dan tunduk pada semua peraturan (persyaratan) yang ditetapkan panitia,
12.Lampirkan juga photo copy KTP / SIM atau bukti identitas lainnya yang masih berlaku,
13.Pengumpulan karya akan dimulai pada tanggal 17 Oktober 2009 dan ditutup pada 27 Desember 2009,
14.Karya bisa dikirimkan sendiri atau via Pos/jasa pengiriman paket ke alamat:
PANITIA Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri
d/a Irvan Mulyadie, Jl. Nagrog Kidul Indihiang RT.008 RW.002
Kel: Indihiang Kec: Indihiang Kota Tasikmalaya Jawa Barat 46151
Contak Person: 08180 212 8581 (irvan mulyadie) e-mail: vanmydie@yahoo.co.id
15.Persyaratan lain yang harus dikirim dalam bentuk file dalam kepingan CD, berisi:
File rekaman suara pembacaan puisi yang dibacakan langsung oleh penyairnya sendiri dalam format WAV, tapi lebih diutamakan dengan format MP3,
File naskah puisi yang dibacakan penyair bersangkutan dalam format doc / rtf,
File Biodata diri penyair bersangkutan, termasuk alamat lengkap, alamat e-mail, alamat website/blog pribadi dan No HP/Telp,
File Potret diri penyair bersangkutan (close up),
16.File Materi yang telah dikirim ke panitia (diluar hak cipta karya), menjadi milik panitia,
17.Pengumuman selanjutnya akan dipublikasikan pada 1 Januari 2010 di alamat http://irvanmulyadie.blogspot.com

Hak Peserta:
1.Setiap penyair yang karyanya dimuat akan mendapatkan 1 buah master antologi puisi digital dengan tajuk: Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri
2.Setiap penyair yang karyanya dimuat diperbolehkan memperbanyak, menyebar-luaskan, serta memperjual-belikan Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri tersebut sepanjang tidak menggunakan cara-cara yang melanggar hukum seperti pemaksaan dan merugikan pihak lain,
3.Keuntungan yang didapatkan dari hasil memperbanyak, menyebarluaskan, serta memperjualbelikan antologi digital Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri ini seluruhnya diberikan kepada penyair masing-masing (sebagai royalty).

Kewajiban lain Peserta:
1.Memberikan dana partisifasi Rp. 50.000,- /orang.
2.Melaporkan kepada panitia (cukup melalui e-mail) jumlah antologi yang diperbanyak oleh masing-masing penyair secara berkala (maksimal 3 bulan sekali) dengan maksud sebagai kontrol peredaran antologi yang menyebar di masyarakat,
3.Melaporkan kepada panitia (cukup melalui e-mail) apabila akan mengadakan launching terbuka Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri yang meliputi waktu, tempat, serta jumlah peserta yang mengikutinya.

CATATAN :
-Meski dengan sangat berat hati, dana partisifasi dipungut sebagai pengganti biaya untuk proses pembuatan Mastering (penggandaan), pencetakan materi pendukung, publikasi dan ongkos kirim antologi ke alamat masing-masing peserta,
-Dana partisifasi dihimpun di Bank Mandiri 13104 KC Tasikmalaya Ottoiskandar-dinata dengan Nomor rekening : 131 – 00 – 0633214 – 4 a/n Irvan Mulyadie,
-Dana partisifasi diserahkan paling lambat 5 hari setelah pengumuman atau tanggal 6 Januari 2010,
-Pengiriman master Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri ke alamat peserta masing-masing paling lambat 2 hari setelah dana partisifasi diterima. Dan diperkirakan akan sampai ke alamat tujuan (khususnya di luar pulau Jawa) paling lambat dalam 3-5 hari,
-Bagi peserta yang belum atau tidak menyerahkan dana partisifasi tapi telah memenuhi persyaratan, karya-karyanya tetap akan diikutsertakan dalam Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri,
-Dari data yang pernah ada dalam event serupa (pembuatan antologi bersama), target peserta yang akan mengikuti kegiatan ini dapat mencapai lebih dari 200 peserta.





PUBLIKASI SASTRA DIGITAL
Oleh: Irvan Mulyadie

Karya sastra dibuat untuk memenuhi panggilan jiwa kreatornya, Sastrawan. Secara intuitif karya-karya tersebut tercipta sebagai respon atas pergulatan batin melalui perenungan-perenungan yang dalam, serta telah melalui proses persentuhan dengan berbagai hal di luar diri pengarangnya. Bisa realitas sosial masyarakat di sekitarnya, persoalan ekonomi, kondisi politik, serta lebih jauhnya lagi menjadi semacam ‘kamera tersembunyi’ yang merekam perjalanan suatu bentuk kebudayaan dunia.

Ragam karya sastra pun bermacam-macam. Mulai dari puisi, cerita pendek, novel, juga naskah drama. Tapi belakangan diwacanakan pula perihal esai seni budaya dan skenario film yang dapat dikategorikan sebagai karya sastra tersendiri. Namun disini, saya tidak akan mempersoalkan tentang bentuk karya sastra tersebut. Bukan karena telah menganggap selesai, rasanya cukup para ahli atau pakar dan peneliti sastra saja yang melakukannya.

Ada yang begitu menarik perhatian saya selama ini dalam mengikuti perjalanan perkembangan sastra di Indonesia. Terutama di wilayah teknik publikasi karya sastra yang dilakukan oleh para Sastrawannya. Puisi, misalnya.Mungkin pada tahun-tahun sebelum 1990an, media cetak seperti koran dan majalah adalah pelabuhan impian bagi para pengarang dalam mengumumkan kreativitasnya. Selain dapat dibaca oleh khalayak luas, terlebih honor tulisannya mampu menambah isi pundi-pundi yang dapat dipergunakan untuk membiayai proses kreatifnya.

Sayangnya, keterbatasan rubik atau halaman menjadi pemicu ’kecemburuan sosial’ diantara para pengarangnya sendiri. Belum lagi tentang masalah gara-gara banyaknya koran atau majalah yang berhenti menampilkan karya puisi. Persaingan karya yang tak sehat pun mulai muncul akibat adanya kecenderungan (baca: selera) redaktur pemegang halaman sastra sendiri. Bahkan diakui atau tidak, akhirnya semua itu menciptakan semacam ’rejim sastra’. Tentu saja wacana tersebut kurang produktif.

Perbedaan mencolok dalam proses publikasi karya sastra dapat kita rasakan setelah menjamurnya wacana internet. Di Indonesia, internet dalam hal ini telah memberikan sedikit pencerahan bagi para penggiat sastra. Media internet sedikitnya mampu mengobati kerinduan untuk tampil di muka umum. Dengan tiba-tiba, banyak orang yang mampu menulis puisi, cerpen dan sebagainya yang dipublikasikan secara luas meski terbatas.

Luas, karena dapat dibaca oleh semua orang di dunia. Dan terbatas, karena di Indonesia pada awal tahun 1990an orang yang mampu mengakses internet sendiri tidak begitu banyak. Apalagi kemampuan menggunakan teknologi informasi diantara para praktisi sastra serius belum menampakan diri. Maka hasilnya dapat ditebak. Karya-karya yang dipublikasikan di dunia maya banyak kehilangan bobotnya. Bahkan banyak sastrawan senior yang sinis dengan menyebutnya sebagai karya sampah tak bermutu.


Sastra Digital

Berbicara tentang publikasi karya sastra, lebih spesifiknya lagi puisi, saya melihat begitu banyak peluang untuk mengembangkannya. Dalam format digital, misalnya. Hal ini boleh direspon oleh berbagai kalangan. Terutama oleh para kreatornya sendiri (penyair). Meskipun media cetak seperti koran, majalah atau buku merupakan media publikasi efektif dan masih tak tergantikan secara signifikan selama ini.
Publikasi puisi dalam format digital, bisa berupa pembacaan karya puisi yang direkam dalam sebuah kaset atau cakram CD. Atau lebih jauh lagi melalui video art yang menggunakan teknologi multimedia. Memang, wacana ini sebetulnya tidaklah orsinil, dengan kata lain bukanlah hal baru. Mengingat beberapa orang telah melakukannya.

Sebut saja almarhum WS Rendra, yang beberapa tahun ke belakang telah merilis album puisinya dengan bentuk kaset/CD. Dan menurut keterangan, pemasarannya sudah mencapai beberapa negara tetangga seperti Malaysia. Tidak hanya dalam bentuk rekaman suara, ketika masih muda usia, ia pun telah melangkah lebih jauh dengan mempublikasikan puisinya dalam bentuk video klip. Dan video tersebut masih dapat kita akses dengan mudah sekarang ini melalui situs terkemuka di dunia, youtube. Tentu saja hal ini sangat menarik.

Tidak hanya WS Rendra, penyair asal Priangan Timur, Godi Suwarna pun pernah melakukan hal serupa. Dia membacakan puisi pilihannya dalam bahasa Sunda dan direkam serta dipublikasikan dalam bentuk kaset. Pada awalnya album Godi Suwarna tersebut murni mengandalkan kepiawaiannya dalam membaca puisi. Hanya belakangan telah mendapatkan sentuhan musik dan kemudian dipublikasikan dalam bentuk keping CD. Saya sendiri pernah melakukannya. Tidak hanya direkam dalam format suara dalam keping CD, melainkan video klip / video artnya juga. Dan telah dipublikasikan di beberapa situs terkemuka seperti youtube, narsis.tv , Blog Google, dan bahkan di situs jejajaring sosial, facebook.

Mungkin, sebutan sastra digital untuk kreasi seperti ini akan mengundang perdebatan panjang. Mengingat belum adanya teori baku yang mengaturnya. Tapi yang jelas, pengukuran kualitas nilai instrinsik atau ekstrinsik sastra di dalamnya tetap berada pada nilai-nilai yang terkandung berdasarkan sastra tekstual saja. Artinya, muatan dalam teks puisi tetap tidak akan mendapatkan tambahan nilai lebih meskipun diberikan performa lain seperti dengan sentuhan audio visual. Hanya dari sisi apresiasi, apresiator akan mendapatkan ’kontraksi bathin’ tersendiri. Karena suguhan puisi dalam bentuk ini akan mampu merangsang beberapa pancaindera untuk menikmatinya.

Namun yang perlu diwaspadai disini, jangan sampai ada penggiringan imajinasi terlalu frontal dalam pengemasannya. Sehingga keutuhan nilai sastranya sendiri tetap terjaga. Dan mampu berkomunikasi dengan baik dalam bahasanya sendiri.


Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia

Berangkat dari wacana di atas, agaknya publikasi karya puisi tidak perlu lagi terfokus pada berwujud teks saja. Pemikirannya sederhana, yakni untuk memberikan sebuah pengucapan segar dalam rangka meningkatkan kembali pamor puisi yang selama ini cukup jauh tertinggal dibanding dengan wacana seni kontemporer yang bernuansa pop (baca: Pasaran). Dan ini penting. Paling tidak dapat dianalogikan sebagai hiasan pemanis dalam suatu hidangan di meja makan.

Salah satu hal yang logis untuk mewujudkan semua itu yakni dengan memulainya dari sekarang. Adanya perhelatan yang digagas oleh beberapa penyair muda yang bertajuk Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia: Bisikan Hati Anak Negeri agaknya perlu mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Sebab dengan pergerakan seperti inilah agaknya kemajuan wacana sastra di masa depan akan menemukan gairahnya kembali.

Tidak hanya menjadi bahan pembelajaran dalam teknik mengemas karya, juga sebagai saluran jejaring sosial dari lintas generasi sastra yang berbeda. Intinya silaturahmi. Sekaligus upaya pemanfaatan teknologi informasi publikasi dengan cara yang efektif dan efisien.*)

(Dimuat pertamakali di Harian Radar Tasikmalaya: 27 September 2009)

Jumat, 11 September 2009

Irvan Mulyadie

Kamis, 10 September 2009

Scene Album