Sabtu, 11 Februari 2017

HATTRICK PUISI

Tidaklah penting sebutan-sebutan apa pun yang disematkan sebagai julukan atas apa yang telah orang lakukan, atau apa pun yang telah saya dapatkan. Termasuk di dunia penulisan; kepenyairan. Yang oleh beberapa orang telah diklasifikasi menjadi penyair event, penyair kondangan, penyair bayaran, penyair urunan, penyair koran, bahkan penyair Renegade (Pemburu Hadiah/ Lomba). Belakangan, istilah penyair lomba ini sering disematkan kepada saya. Pasalnya beberapa kali saya mengikuti kontes penulisan puisi, memang, saya sering mendapatkan posisi sebagai juara.

Tapi sekali lagi, bagiku, mengikuti perlombaan-perlombaan, baik itu yang berupa karya cipta (menulis puisi, blog, film, melukis, sains, teater, dll) maupun lomba yang melibatkan aktivitas fisik (renang, lari, futsal, lintas alam, dll) bukanlah merupakan hal yang luar biasa. Karena sejak masih anak-anak, saya telah terbiasa mengikuti berbagai perlomban tersebut. Sudah menjadi hobi, semacam "iseng-iseng berhadiah". 

Perlombaan-perlombaan semacam itu, telah menjadikan hidup saya lebih berwarna. Adrenalin terpacu dan menyehatkan jantung. Secara fisik, saya jadi lebih kuat. Saya lalu bertemu dengan banyak orang yang berbeda, silaturahmi. Menemukan banyak pengalaman dan saling berbagi. Dan itu telah membuat psikis saya segar seperti potongan buah-buahan yang baru dipetik dari pohonnya. Saya akan sangat bahagia setelahnya.

Karena telah terlatih sejak puluhan tahun lalu, baik menang atau pun kalah, saya tetap akan merasa sebagai juara: mendapatkan ilmu baru !. 

Mengakhiri tahun 2016 dan mengawali tahun 2017 ini, saya lebih banyak mengikuti lomba menulis saja. Seleksi puisi untuk penerbitan buku tertentu pun selalu saya anggap sebagai sebuah perlombaan. Itu karena kesibukan lain. Lomba menulis tidak begitu banyak menyita waktu, tenaga dan biaya. Lomba menulis telah membuat saya aktif kembali dalam berkarya. Karena saya selalu butuh pemantik untuk menyalakan api di dalam dada. 

Saya sering teringat dengan kisah Putu Wijaya yang pada waktu lalu beberapa kali pernah saya temui. Konon, beliau tidak pernah memberikan perbedaan perlakuan terhadap media-media massa yang ia kirimi tulisan. Mau media besar yang terkenal maupun media lokal, asalkan mau memuat tulisanya, maka ia akan mengirimkan tulisannya. Sebab baginya, tidak pernah ada hirarki pada dunia kepenulisan. Termasuk dengan para pembacanya. Semua punya keunikan tersendiri. Dan tentu saja hal itu pula yang kini sedang saya teladani. 

Mengirim tulisan untuk media massa, mengikuti seleksi untuk acara tertentu atau bagi penerbitan sebuah buku, bahkan mejadi peserta perlombaan hanyalah salah satu cara untuk publikasi kekaryaan. Ada pun soal honorarium atau hadiah yang didapatkan adalah bonusnya. Yang utama adalah menguji karya kita sendiri di hadapan redaktur/ kurator/ dewan juri yang tentu saja mempunyai pertimbangan-pertimbangan objektif dan ilmiah sesuai dengan kapasitasnya. Dan yang terpenting adalah sebagai jembatan silaturahmi antar seniman. Alhamdulillah.... 😊 

Berikut ini adalah jejak-jejak terakhir dari tiga perlombaan menulis puisi yang belakangan saya ikuti :

1. Juara 2 Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional 2016 
    "SAIL PUISI CIMANUK"
   (Jumlah peserta 1.135 orang. Penyelenggara : Dewan Kesenian Indramayu)

2. Juara 2 Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional 2016 
    "SAYEMBARA PENA KITA"
    (Jumlah peserta 495 puisi. Penyelenggara : KITA Jateng)

3. Juara 1 Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional 2017
    (Jumlah peserta 1251 orang. Penyelenggara : LESBUMI & LTN NU Maroko)

Jumat, 02 Desember 2016

JEJAK SILATURAHMI PUISI 2016

 Memo Anti Terorisme merupakan buku kumpulan puisi yang diterbitkan oleh Forum Sastra Surakarta pada April, 2016. Buku ini ditulis oleh dua ratus lima puluh Penyair Indonesia dan Malaysia yang tergabung dalam Penyair PMK (Puisi Menolak Korupsi).


 Buku antologi Pasie Karamberisi karya dari 163 penyair dari Nusantara, Malaysia, Singapura, dan Rusia. Buku berukuran A5 setebal 450 halaman tersebut melibatkan kurator dari Aceh dan Jakarta. Mereka adalah D Kemalawati, Mustafa Ismail, dan Fikar W Eda dari Jakarta.
 Diterbitkan Dewan Kesenian Aceh Barat, 2016.


Ini adalah buku hasil Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional Tahun 2016 “Sail Puisi Cimanuk”yag diikuti oleh peserta lomba berasal dari Aceh sampai Papua, sebanyak 1.135 penyair, baik yang sudah lanjut usia maupun masih remaja. Antusiasme itulah yang membuat Dewan Juri mesti menilai secara marathon dan bersidang secara ketat dan sangat serius untuk memilih“100 puisi pilihan” 
 yang masuk dalam buku antologi puisi ini. 

 Antologi puisi 1550 MDPL berisi puisi-puisi yang telah lolos kurasi. Ada 1.789 puisi dan 579 penyair 
yang dikirim ke alamat panitia. Setelah melalui proses kurasi –tim kurator yang terdiri dari
 Mustafa Ismail, Fikar W Eda dan Salman Yoga S– menyatakan ada 250 penyair yang lolos kurasi 
yang diumumkan tanggal 17 November lalu.