Senin, 05 September 2016

Liputan Khusus


EKSPRESI ‘SENI’ KEMERDEKAAN
DI KAMPUNG KREATIF TUNDAGAN
Oleh : Irvan Mulyadie



Memasuki bulan Agustus, hampir setiap daerah di Indonesia bersiap diri merayakan pesta kemerdekaan. Beragam acara hiburan, kesenian, olahraga, hingga kegiatan kerohanian pun diselenggarakan. Tak terkecuali di Tundagan, Kelurahan Linggajaya Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya. Kemeriahan dari awal bulan terasa padat hingga berakhirnya bulan ini. Intinya satu, berbagi kebahagiaan dengan berbagai lapisan masyarakat.

Namun disini ada yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sejak dideklarasikan bersama oleh warga dengan penambahan nama kampung kreatif pada 20 Maret 2016 lalu, wajah kampung Tundagan nampak berbeda dari biasanya. Banyak mendapatkan ‘sentuhan seni’ disana-sini. Baik secara pisik maupun dalam berbagai kemasan acara. Lebih tertata dengan baik. Sampah-sampah rumahan tidak lagi berserakan di jalanan. Kecuali pada saat jadwal pengangkutan oleh pihak kebersihan.

Membawa pesan ramah pada lingkungan hidup, membuat warga Tundagan bahu membahu menciptakan kampung yang bersahabat. Mulut-mulut gang sempit dihiasi denga gapura yang multi fungsi. Selain berwujud sebagai gerbang selamat datang, berguna pula sebagai media penyimpanan tanaman. Ujung-ujungnya membuat sejuk suasana dan sarana penghjauan. Selain itu, gapura pun dihias sedemikian rupa sehingga tampilannya lebih cantik dan menarik.


Dinding-dinding perkampungan korban vandalisme pun tak luput dari sentuhan. Grafiti dan mural digoreskan tangan-tangan generasi muda yang berbakat di bidang seni rupa. Hasilnya bisa dinikmati dengan gembira. Selain menutup coretan-coretan liar kaum vandalis, juga mempercantik lingkungan. Bahkan di lokasi-lokasi tertentu, kreasi grafiti dan mural ini menjadi tempat favorit remaja untuk sekedar selfie (swa foto).

Demi kepedulian terhadap lingkungan, lomba panjat pohon pinang ditiadakan. Alasan utamanya karena pohon Pinang sudah sangat jarang. Yang masih ada pun sengaja dipertahankan. Secara pertumbuhan juga pohon Pinang ini agak lambat. Maka sebagai gantinya, permainan hiburan berbasis ketangkasan ini pun diganti dengan Golempang. Di daerah lain biasa disebut juga dengan istilah Golewang.

Golempang adalah permainan ketangkasan yang mengharuskan pemainnya untuk berhasil melewati sebatang bambu yang telah diberi pelicin dan dibentangkan sebagai jembatan tunggal di atas kolam atau sawah. Sementara di ujung jembatan itu diletakan berbagai hadiah yang menarik. Bedanya dengan panjat Pinang, Golempang diletakan rebah secara horisontal. Sedangkan panjat Pinang itu berdiri vertikal.

Selain dimeriahkan dengan berbagai lomba yang khas Agustusan seperti balap karung yang seru, lomba makan kerupuk nan lucu, balap kelereng sendok yang menegangkan, balap meniup bola pingpong, makan kerupuk kulit atau Dorokdok, joget kompak memakai jeruk dan balon,pukul air, juga dihiasi pula dengan kegiatan olah raga.

Tundagan merupakan kampung di daerah perkotaan yang sangat beruntung. Meskipun secara wilayah berada di sekitar pusat kota, namun Tundagan memiliki cukup ruang publik untuk dimanfaatkan. Karena memiliki lapangan yang cukup luas, maka kemeriahan HUT RI ke-71 ini dilengkapi juga dengan berbagai kegiatan olah raga. Seperti sepak bola Kemerdekaan Cup, Pingpong/ Tenis Meja, Catur, dan Jalan Santai.
 
Karena membaptis diri sebagai daerah kreatif, kegiatan olahraga berupa Jalan Santai pun tak luput dari sentuhan seni. Keberangkatan para peserta jalan santai diawali dengan upacara adat khas suku Sunda. Membuat suasana lebih berwarna dan ceria. Bahkan, disaat pembagian hadiah, hiburan pun diwarnai dengan tarian jaipong yang mengusung sendra tari dari grup lokal Tundagan, yakni Kirana Sarimbit.

Malam puncak peringatan Kemerdekaan yang diselenggarakan pada 20 Agustus 2016, tampilan hiburan yang didomnasi oleh pentas kesenian semakin membuat suasana kemerdekaan kian terasa. Kumandang lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruhwarga dan tokoh-tokoh masyarakat yang hadir bergema begitu hidmat. Semua bernyanyi, tua-muda, laki-laki dan perempuan yang kebetulan hadir disana merasakan juga bagaimana semangat nasionalisme itu berada di antara mereka.

Hampir seluruh bakat seni warga ditampilkan pada malam puncak tersebut. Orasi budaya yang membakar gairah kebangsaan yang dilandasi dengan nilai-nilai religious disampaikan sangat apik oleh tokoh masyarakat Tundagan, Ooy Rosyidin. Saya sendiri hanya berperan menjadi konduktor acara sebagai ketua pelaksana kegiatan. Pentas seni yang digelar mulai dari modern dance, kabaret lucu ibu-ibu PKK yang diarahkan secara kocak oleh Ela Dahlia dari Barak Seni Tasik, nyanyian penuh semangat yang diiringi band muda-mudi IPTB, juga pembacaan puisi oleh penyair-penyair dari Sanggar Sastra Tasik (SST) seperti Saeful Badar, Amang S Hidayat, Lucky Lukita dan Rizky Arbianto. Dan sebagai penutup pentas, maka suguhan lawak dari kelompok Borelak menjadi suguhan yang pas kegiatan yang dilangsungkan sejak pagi hingga puncak malam pada 20 Agustus 2016.
 
Selepas malam pentas kemerdekaan, diadakan pula Tabligh Akbar yang menghadirkan kyai kharismatik KH. Drs. Acep Tohir (cucu pahlawan nasional, KH.Zaenal Musthafa). Sampai tulisan ini diturunkan, kegiatan peringatan hari kemerdekaan Indonesia di Kampung Kreatif Tundagan masih berlangsung. Dan ditutup pada 28 Agustus dengan hajat lembur, Ngobyag Susukan. Susukan atau kali kecil yang berfungsi sebagai batas wilayah Tundagan ini sejak awal memang dimanfaatkan untuk mengelola perikanan.

Sejatinya, memang merayakan kemerdekaan tidak pernah akan cukup dengan hanya membuat berbagai perlombaan khas Agustusan. Merayakan kemerdekaan lebih jauh lagi harus diimplementasikan dengan berkarya nyata dalam kehidupan. Menghargai jasa-jasa pahlawan dengan jasa-jasa lain yang lebih baik dari diri kita sendiri. Menghidupi keluarga, mengelola lingkungan sekitar, dan berkiprah untuk bangsa dan negara. Merdeka !.


Tulisan pertamakali dipublikasikan di Harian Kabar Priangan, 3 September 2016

Pernak-Pernik :

  



Senin, 08 Agustus 2016

TASIK DARURAT SIMBOL


Kota Tasik hari ini, adalah kota
Dengan segudang masalah jiwa
Jiwa-jiwa yang galau
Jiwa-jiwa yang risau
Jiwa-jiwa yang selalu musim kemarau
Jiwa-jiwa yang tak pernah bisa lepas
Dari dosa di masa lampau

Kota Tasik hari ini, adalah kota darurat simbol
Dimana tugu dan patung-patung
Hanya sekedar objek yang buntung
Lihatlah !
Tidak ada kemegahan yang terpancar
Dari sembilan puluh sembilan asma tuhan
Semua diinjak habis oleh film di megatron
Propaganda kapitalis yang mencuci otak rakyat
Dengan iklan pembunuhan

Katanya kota santri, tapi kok, gini?

Kota Tasik hari ini, adalah kota darurat simbol
Dimana tugu adipura ditunggangi beban agama
Sementara sampah-sampah masih saja amalayah
Pabalatak na saban tincak




Kota Tasik hari ini, adalah kota darurat simbol
Dimana tugu patung manggu menjelma
Payung topeng monyet
Yang warnanya belang hijau
Tapi tak mampu timbulkan pukau
Bahkan di pertigaan Jati dan Parhon
Payung-payung monyet itu
Bagai seniman yang kampungan
Yang menjual hati nurani
Dengan uang-uang recehan
Terlena, dimabuk tipu janji manis kekuasaan

Kota Tasik hari ini, adalah kota darurat simbol
Dimana gedung dirubuhkan
Hanya untuk bikin taman
Padahal gedung harga milyaran
Yang diambil dari uang rakyat, keringat rakyat
Dan darah rakyat
Sementara gunung-gunung dihancurkan
Atas nama pembangunan
Sawah-sawah ditimbun, lalu disulap
Jadi pabrik dan pertokoan
Kemudian mencekik leher buruh pertanian
Menjadi mall-mall yang besar
Melilit hati pedagang pasar tradisional
Membunuh warung-warung kecil
Dan pribumi tersisihkan, terpinggirkan
Jadi kacung di kampung halamannya sendiri


Lalu apakah ini namanya bila bukan kebijakan?
Kebijakan yang tidak bijak
Kebijakan yang selalu ditengarai
Sebagai proyek objek bancakan

Kota Tasik hari ini, adalah kota darurat simbol
Simbol yang dipaksakan, simbol-simbol
Yang sejatinya tidak begitu penting
Ketimbang pembangunan ekonomi rakyatnya
Yang miskin
Ketimbang pembangunan jiwa rakyatnya
Yang sakit
Pembangunan jiwa penguasanya
Yang nampak rakus
Jiwa-jiwa-jiwa kita yang gelisah

Wahai, Kota Tasikmalaya, bangunlah!
Mari bangkit dan sadar diri !


24 Desember 2015




Minggu, 07 Agustus 2016

MAJELIS SASTRA ASIA TENGGARA (DRAMA) 2015

Semestinya, postingan ini sudah tayang setahun yang lalu. Tapi karena berbagai macam alasan, ya... begitu, deh. Dan karena saya menganggap blog ini bukan koran harian atau majalah yang biasa terbit secara berkala, saya rasa tidak ada berita yang basi untuk disajikan disini. Hehehe... #ngeles