Senin, 08 Agustus 2016

TASIK DARURAT SIMBOL


Kota Tasik hari ini, adalah kota
Dengan segudang masalah jiwa
Jiwa-jiwa yang galau
Jiwa-jiwa yang risau
Jiwa-jiwa yang selalu musim kemarau
Jiwa-jiwa yang tak pernah bisa lepas
Dari dosa di masa lampau

Kota Tasik hari ini, adalah kota darurat simbol
Dimana tugu dan patung-patung
Hanya sekedar objek yang buntung
Lihatlah !
Tidak ada kemegahan yang terpancar
Dari sembilan puluh sembilan asma tuhan
Semua diinjak habis oleh film di megatron
Propaganda kapitalis yang mencuci otak rakyat
Dengan iklan pembunuhan

Katanya kota santri, tapi kok, gini?

Kota Tasik hari ini, adalah kota darurat simbol
Dimana tugu adipura ditunggangi beban agama
Sementara sampah-sampah masih saja amalayah
Pabalatak na saban tincak




Kota Tasik hari ini, adalah kota darurat simbol
Dimana tugu patung manggu menjelma
Payung topeng monyet
Yang warnanya belang hijau
Tapi tak mampu timbulkan pukau
Bahkan di pertigaan Jati dan Parhon
Payung-payung monyet itu
Bagai seniman yang kampungan
Yang menjual hati nurani
Dengan uang-uang recehan
Terlena, dimabuk tipu janji manis kekuasaan

Kota Tasik hari ini, adalah kota darurat simbol
Dimana gedung dirubuhkan
Hanya untuk bikin taman
Padahal gedung harga milyaran
Yang diambil dari uang rakyat, keringat rakyat
Dan darah rakyat
Sementara gunung-gunung dihancurkan
Atas nama pembangunan
Sawah-sawah ditimbun, lalu disulap
Jadi pabrik dan pertokoan
Kemudian mencekik leher buruh pertanian
Menjadi mall-mall yang besar
Melilit hati pedagang pasar tradisional
Membunuh warung-warung kecil
Dan pribumi tersisihkan, terpinggirkan
Jadi kacung di kampung halamannya sendiri


Lalu apakah ini namanya bila bukan kebijakan?
Kebijakan yang tidak bijak
Kebijakan yang selalu ditengarai
Sebagai proyek objek bancakan

Kota Tasik hari ini, adalah kota darurat simbol
Simbol yang dipaksakan, simbol-simbol
Yang sejatinya tidak begitu penting
Ketimbang pembangunan ekonomi rakyatnya
Yang miskin
Ketimbang pembangunan jiwa rakyatnya
Yang sakit
Pembangunan jiwa penguasanya
Yang nampak rakus
Jiwa-jiwa-jiwa kita yang gelisah

Wahai, Kota Tasikmalaya, bangunlah!
Mari bangkit dan sadar diri !


24 Desember 2015




Minggu, 07 Agustus 2016

MAJELIS SASTRA ASIA TENGGARA (DRAMA) 2015

Semestinya, postingan ini sudah tayang setahun yang lalu. Tapi karena berbagai macam alasan, ya... begitu, deh. Dan karena saya menganggap blog ini bukan koran harian atau majalah yang biasa terbit secara berkala, saya rasa tidak ada berita yang basi untuk disajikan disini. Hehehe... #ngeles





Rabu, 03 Agustus 2016

TUTUNGKUSAN



SASTRA MEMBANGUN DESA
Oleh : Irvan Mulyadie
 Pagi, sekira pukul 06.00 WIB, kompleks bale Desa Mangunjaya Kecamatan Mangunjaya Kabupaten Pangandaran begitu tenang. Nampak tanpa aktivitas berarti. Padahal, pada malam sebelumnya, ada banyak tokoh masyarakat yang berkumpul di sana. Berbincang hangat tentang kondisi terkini desa dan segala peraturan yang menyertainya sambil mereguk bajigur hangat dan goreng Singkong bersama pembicara Drs.Asep Chahyanto, M.Si.


            
Tapi itu hari Minggu, tepatnya 24 Juli 2016. Hari dimana kantor bale desa sedang libur. Sementara tak jauh dari sana, riuhnya Pasar Gimbal yang tradisional terus bergeliat dalam ritual transaksional antara penjual dan pembeli. Dengan barang dagang hasil bumi, kelontongan, sandang-pangan dan tentu saja kuliner khas daerah setempat: Soto Entog.

(Menikmati Soto Entog di Pasar Gimbal)

Hari itu Sanggar Sastra Tasik mendapat undangan kehormatan dari Sanggar Banyu Bening untuk mengisi materi diskusi dengan para pendidik yang tersebar di lingkungan Desa Mangunjaya dan aktivis seni lokal. Tadinya kegiatan dimaksud hanya untuk sekedar acara silaturahim. Hanya diperjalanan, diskusi jarak jauh via facebook dan pesawat handphone itu terus berkembang. Maka jadilah acara khusus. Temanya sangat menarik, yakni Sastra Membangun Desa.
  

Sekedar untuk mengingat, Kabupaten Pangandaran mulai berpisah dari Kabupaten Ciamis sejak diterbitkannya Undang - undang Nomor 21 Tahun 2012 tentang Pembentukan Kabupaten Pangandaran di Provinsi Jawa Barat. Dan sebagai daerah yang berada di lingkungan kabupaten termuda di Jawa Barat, Desa Mangunjaya sendiri bisa dibilang paling tua keberadaannya bila dibandingkan daerah sekitar lainnya. Hal ini tampak dari berbagai jejak ‘karuhun’ yang tersebar di berbagai sudut kampung. Mulai dari petilasan zaman kerajaan Mataram hingga arsitektur berupa tanggul warisan sejarah penjajahan Belanda. 

 
Di dalam acara diskusi Sastra Membangun Desa, saya tampil sebagai Moderator. Sementara pembicaraan dibagi dalam dua bagian, yakni pengetahuan umum dan proses kreatif dalam sastra serta teknik penampilan baca puisi. Adalah Acep Zamzam Noor, Saeful Badar dan Sarabunis Mubarok yang membedah tentang pentingnya peranan sastra bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Tidak kecuali di lingkup desa.
“Cikal bakal negara Indonesia terlahir dari sebuah puisi yang berjudul Sumpah Pemuda. Puisi tersebut menjadi pengikat antar suku di Nusantara untuk bersatu, sehingga mampu mengusir penjajah dan merdeka” Terang Acep.


Sementara itu, Saeful Badar memberikan gambaran melalui pengalaman sejatinya tentang berbagai tantangan dalam mengajarkan sastra di sekolah. Bagaimana misalnya ia melatih kepekaan murid-muridnya di SMPN Langkaplancar dulu melalui kecintaan terhadap buku.           “Mempelajari sastra harus dimulai dari kecintaan membaca. Sebab tanpa itu semua, sebuah keniscayaan untuk menghasilkan karya sastra yang baik”

“Lingkungan sekitar akan berpengaruh terhadap kreativitas seseorang dalam berkarya, termasuk juga dalam karya sastra. Diharapkan, pihak sekolah mampu menjembatani hal itu” Kata Sarabunis Mubarok yang pada kesempatan itu lebih membahas ke persoalan-persoalan teknis dalam penulisan kesusastraan.


Di lain saat, diskusi Sastra Membangun Desa kian menghangat. Praktisi teater dan sastra Amang S Hidayat dan Jabo Widiyanto, begitu terampil memainkan tempo dalam mengisi materi tentang teknik baca puisi dan segala pengetahuannya tentang hal itu. Tanya jawab dari peserta yang didominasi praktisi pendidikan dan aktivis seni itu kian seru. Apalagi, disela-sela diskusi dihadirkan juga pembacaan puisi dari Rizky Arbianto, Mataya Sutiragen, dan Azis 'Gedang' Sukriyadi.


 Keseruan tak sampai disitu, acara yang digelar sejak pukul sembilan pagi dan dikoordinatori oleh penyair Doni M Nur dan Yanuwar Effendi kian siang semakin hidup. setelah sesi berakhir dengan penyerahan penghargaan dari pihak Kepala Desa Mangunjaya yang sekaligus Sesepuh Sanggar Banyu Bening, Furkonudin kepada Sanggar Sastra Tasik dan Drs. Asep Chahyanto, M.Si, acara yang dihadiri oleh Camat Mangunjaya itu pun happy ending dengan suguhan Stand Up Commedy dari Azim Borelak.